Obituari Riau Pos untuk Bayu Caesar

Rino Dezapaty terus bersemangat memimpin rapat kecil sore itu. Ia bersama keluarga besar Riau Rhythm Chambers Indonesia yang dipimpinnya sedang menyusun rencana menggelar konser tunggal untuk Bayu Caesar; salah satu anggota termuda Riau Rhythm yang sedang sakit. Memang, sudah seminggu lebih Bayu dirawat di RSUD Arifin Achmad karena sakit paru-paru, kelenjar getah bening dan miningitis yang dideritanya. Sebelumnya, Bayu sudah keluar-masuk rumah sakit, bahkan bukan hanya RSUD.

Handphone Rino berdering tiba-tiba. Sebelum mengangkat telepon itu, Rino melihat jam di tangannya. Tepat pukul 17.55 WIB. Rupanya ayah Bayu, Jatilus yang menelpon. ‘’Bayu sudah pergi.’’ Begitu suara yang terdengar di ujung telpon itu.  Rino langsung memandang wajah teman-temannya, memberi isyarat kalau Bayu sudah tiada. Hening seketika. Rapat kecil yang riuh dan serius itu berubah hening, sangat hening. Semuanya diam, semuanya menunduk, menggelangkan kepala seolah tak percaya. Rino pun segera berdiri. Begitu juga dengan yang lain. Mereka bergegas menuju ke RSUD tempat Bayu dirawat.

‘’Bayu sudah pergi, Nak. Tak ada lagi Bayu. Tak ada lagi penabuh drum kami…’’ Tangis histeris Ibunda Bayu, Fauziah, pecah seketika saat melihat Rino dan teman-temannya datang. Sementara ayah Bayu hanya bisa terdiam. Tubuhnya menggigil menahan isak. Airmatanya terus mengalir. Tangannya terus mengusap kepala anak semata wayang yang sudah terbujur kaku.
Perjalanan panjang Bayu melawan sakit selama 7 bulan, selesai sudah. Kewajiban ayah dan ibunya untuk mengasuh, telah sampai ke batas. Ia tak lagi marasakan nyeri di dadanya. Begitu juga lehernya yang dikelilingi 7 kelenjar getah bening ganas. Ditambah lagi penyakit miningitis yang muncul tiba-tiba, bahkan baru diketahui beberapa hari sebelum hari itu. Bayu tak lagi menyandang tas yang selalu dipenuhi dengan obat. Dan, yang pasti, Bayu takkan terlihat lagi latihan serta memainkan alat-alat perkusi yang membuat Riau Rhythm sangat sempurna.

Keluar  masuk rumah sakit, adalah hal biasa bagi Bayu yang genap berusia 23 tahun, 3 Januari lalu. Itu sudah dijalaninya sejak Agustus, tepatnya sejak ia jatuh terkulai dalam salah satu acara musik yang digelar di halaman purna MTQ ketika itu. Sejak itu. Bayu berubah. Tidak seperti biasa. Sering lemas. Terlebih saat kelenjar getah beingnya kambuh. Tapi hal itu tidak membuat Bayu luntur latihan. Lemas dan rasa sakit tidak pernah diperlihatkannya. Yang ada ia selalu tegar, semangat latihan dan menyelesaikan album Suvarnadvipa dengan sempurna.

Sebetulnya tidak hanya perkusi. Bayu lihai bermain banyak alat musik. Multi talent.Karena harus fokus dan sempurna, Bayu menekuni perkusi. Kegigihannya itulah yang membuat Bayu bisa bergabung di keluarga besar Riau Rhythm dan membuat tapak kakinya menjejak di banyak wilayah di Indonesia melalui konser yang digelar Riau Rhythm. Juli sampai Agustus 2014, Bayu ikut konser keliling Indonesia; Pekanbaru, Makassar, Surabaya, Solo, Jogya, Bandung, Banten. Pada September 2014 konser di Esplanado Singapura dan konser Singasari Festival di Malang serta di Turki pada 2015.

Semua perjalanan dan proses panjang itu ia jalani dalam kondisi sakit yang sesungguhnya, tapi ia bertahan dan kuat. Ia tetap latihan, berproses dan menyelesaikan album Suvardavipa sampai album itu dilounching Oktober lalu. Ia tidak ikut naik ke atas panggung dan bermain bersama teman-temannya ketika itu. Ia datang dan hanya duduk dengan didampingi ibunda tercinta. Lalu ia foto bersama usai acara. Itulah kali terakhir Bayu naik ke atas panggung. Waktu itu, Bayu dalam kondisi rawat jalan.

Memainkan album yang sudah jadi itu adalah keinginan terbesarnya. Sayang, itu takkan pernah ia rasakan. Begitu juga keinginannya ke Australia yang sempat tertunda pada Agustus lalu. Semua keinginan dan kenangan-kenangan tentang Bayu itu pergi bersama jasad Bayu yang malam itu langsung diusung oleh orangtuanya ke tanah kelahirannya, Tembilahan.

Bayu juga seperti teman-temannya yang lain: anak muda yang mencintai musik. Anak kampung yang ingin maju dan besar dengan sesuatu yang bermula dari kampung, yakni musik tradisi. Makanya ia memilih jurusan Sendratasik UIR dan sudah pun duduk di semester 10. ‘’Kami sangat kehilangan. Bayu sosok anak muda yang gigih dan berkarya. Dia multi taent. Apa yang dipegangnya jadi. Suvarnadvipa adalah maha karya yang ia lahirkan. Sebagai composser selalunya saya bisa memainkan semua alat musik dalam album yang lahir, tapi tidak dengan Suvarnadvipa. Itu karya Bayu yang luar biasa,’’ kata Rino.

Kepedihan Rino dan kawan-kawan itu diabadikan dalam blog milik keluarga besar Riau Rhythm. Di sana ia menuliskan, ‘’Selamat jalan adik kami Bayu, petarung hebat, musisi multi talent..We love you… Tempuhlah jalan panjang itu hingga sampai menuju Arsy-NYA. Tunggu kami di surga… Already miss you Boy…!!!! AL FATIHAH.- Rino.’’(kun)

Notes:
Terima kasih untuk sebuah tulisan obituari untuk Percussionist Riau Rhythm Chambers Indonesia, Bayu Caesar. Terima kasih Riau Pos dan Kak Kunni Masrohanti

Sumber Tulisan :
Riau Pos – Rubrik Ranggi