Dukungan Bekraf Memasuki Pasar Dunia 2016

Bertempat di Dia.Lo.Gue Art Space, Jl. Kemang Selatan No.99A  Jakarta, Hari ini tanggal 30 Agustus 2016 Badan Ekonomi Kreatif melangsungkan acara bertajuk ” Press Conference Pendukungan Sektor Seni Pertunjukan Untuk Memasuki Pasar Dunia 2016.

Acara tersebut dibuka dengan penampilan Ega-Robot dengan seni kendang dan kolaborasi perkusi modern. Konsep ini akan dibawa dalam pagelarandi OzAsia Festival 2016 bersama dengan Riau Rhyhtm Chambers Indonesia serta Eyuser. Riau rhythm hadir dalam kesempatan press conference tersebut diwakili oleh Manager, Rendra Kurniawan. Sebelum memasuki sesi utama penjelasan dari pihak bekraf, dilakukan sesi pemutaran teaser tentang OzAsia Festival 2016 yang dipersiapkan oleh TIM BEKRAF dihadapan para jurnalis yang diundang dalam press conference tersebut.

Surprise dan terhormat sekali ketika kami menyaksikan teaser tersebut karena karya-karya Riau Rhythm dalam Album Suvarnadvipa menjadi backsound dalam video teaser tersebut. Hal tersebut adalah sebuah penghargaaan bagi kami saat menyaksikan hal tersebut siang hari tadi. Sesi penjelasan yang berdurasi lebih kurang 15 menit dilakukan bergantian oleh pembicara yaitu Bapak Ricky Joseph Pesik ( Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia dan Ibu Rama Tharani ( Independent Produser untuk OzAsia Festival 2016 ) menjelaskan tentang komitmen Bekraf dan Tupoksinya dalam menjalankan peranya serta tentunya Oz Asia Festival 2016.

IMG_7141

Berikut adalah Siaran Pers Bekraf tentang Press Conference Pendukungan Sektor Seni Pertunjukan Untuk Memasuki Pasar Dunia 2016.

SIARAN PERS
41/SP/BHKP/BEKRAF/VIII/2016

Jakarta, 30 Agustus 2016 – Badan Ekonomi Kreatif ( Bekraf) mendukung perkembangan industri seni pertunjukan dengan memberikan pendukungan pada pelaku ekonomi kreatif di sektor pertunjukan untuk serangkaian event internasional, diantaranya Grup Kesenian Dwipantara Creative untuk Cultures Croisees En Ile De-France di paris 29 Juni – 15 Juli 2016; Grup Kesenian Nan jombang untuk Asian Performing Arts Market in Setouchi ( APAMS) 2016 di Takamatsu, jepang, 22-31 Juli 2016; Grup Kesenian Eyuser, Riau Rhythm Chambers Indonesia dan Ega Robot untuk OzAsia Festival 2016 di Adelaide, Australia, 20 -26 September 2016.

Pembukaan Cultures Croisees En Ile-De-France 2016 yang digelar di gedung UNESCO ( 29/6) diisi dengan pertunjukan Dwipantara Createive yang berasal dari bumi Sriwijaya sebagai perwakilan CIOFF Indonesia. Mereka Menampilkan sejumlah delapan tarian tradisional Nusantara diiringi pemusik sekaligus memamerkan beberapa kerajinan tangan Khas Indonesia.

Cultures Croisees En Ile-De-France merupakan asosiasi yang tergabung dalam Conseil International des Organisations de Festivals de Folklore et d’Arts Traditionnels ( CIOFF) sedangkan CIOFF adalah organisasi internasional yang bekerja sama dengan UNESCO dan berkantor pusat di Confolens, Prancis.

Sementara itu Grup kesenian Nan Jombang ambil bagian dalam APAMS 2016 di Takamatsu, Jepang. Mereka menampilkan karya SangHawa yang bercerita tentang pergulatan dua insan kekasih dari Minang yang berkelindan dengan agama, keluarga dan tradisi matrilineal Minangkabau. Tradisi randai ini disajikan dengan gaya tari-tarian kontemporer yang penuh dengan gerakan rapat, kuat, lincah, bertenaga, melompat, melenting, salto, tubuh-tubuh yang jatuh seketika dan pada dasarnya mengingatkan kita pada gerakan pencak silat Minangkabau.

Hingga Kini, SangHawa telah enam belas kali dipentaskan di luar negeri dan tiga kali di Indonesia. “Harapanya karya kami bisa diekspor di berbagai negara dan menjadi tontonan konsumen mancanegara,” Ujar koreografer sekaligus pendiri Nan Jombang Eri mefry.

Sedangkan Riau Rhythm yang akan tampil dalam OzAsia Festival 2016 di Adelaide Australia akan menampilkan karya SUvarnadvipa, sebuah karya seni dengan kedalama cerita dan inspirasi serta budaya yang dipadukan dengan musikalitas Ethnocontempo. Konsep Ethnocontempo merupakan updaya eksplorasi jangkauan musik yang lebih memberikan porsi besar pada tradisi sebagai elemen utama penggarapan.

“Gaya Riau Rhythm dengan basis melayu akan beda dengan Eyuser yang sangat polinesia, juga beda dari Ega Robot yang kental dengan kendang Sunda” Ujar salah satu pelaku seni pertunjukan Rama Tharani yang juga membantu Bekraf memilih grup seni untuk dipromosikan ke luar negeri.

Target dari pendukungan yang diberikan oleh Deputy IV Bidang Pemasaran Bekraf kepada pelaku seni di sektor seni pertunjukan bertitik berat pada memperluan pangsa pasar ( Jalur Distribusi), mempromosikan hasil karya pelaku kreatif sektor seni pertunjukan yang memiliki kualitas baik, serta terjadinya transaksi karya seni pertunjukan Indonesia di pasar internasional.

Hal ini ditegaskan oleh Deputy IV Bidang Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simanjuntak, bahwa tantangan seni pertunjukan adalah mencari bibit unggul yang dapat ” diual” dengan kualitas layak tampil di luar negeri.

“Indonesia memililki banyak talent yang bagus dan sebetulnya sudah bisa berbicara di dunia luar. Kita akan terus mencari bibit unggul yang bisa kita promosikan membawa nama Indonesia “tutup Joshua”. (kris)